Teks Khutbah Jumat Singkat
Saatnya Kembali kepada Allah SWT
Ustadz Mudiyono, S.Pd.I
اَلسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ
لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَلآَهُ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَ وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ
آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan Taqwa kepada Allah
SWT dengan Taqwa yang sesungguhnya, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya.
Jamaah Jumat
yang dirahmati Allah
Salah satu kesulitan yang kita rasakan adalah
kemarau panjang, tanah mulai kering, sumur berkurang airnya, tanaman sulit
tumbuh, rumput menguning, ternak membutuhkan air, dan pekerjaan sebagian
saudara kita menjadi lebih berat. Bagi masyarakat desa, kemarau bukan sekadar
panas. Kemarau menyentuh kehidupan sehari-hari.
Lalu bagaimana seorang muslim menyikapi
kemarau panjang?
Pertama, kita jangan hanya mengeluh. Kita boleh sedih, boleh merasa berat,
tetapi jangan sampai hati kita jauh dari Allah SWT, Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Artinya : “Sungguh, Kami akan menguji kamu
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:
155).
Kemarau dapat menjadi ujian, tetapi kita
tidak boleh gegabah mengatakan bahwa kemarau pasti hukuman karena dosa
seseorang, kita tidak mengetahui seluruh hikmah Allah SWT, yang dapat kita lakukan
adalah melakukan introspeksi, memperbanyak taubat, dan memperbaiki hubungan
kita dengan Allah SWT serta sesama manusia.
Kedua, kemarau mengajarkan kita untuk
memperbanyak istighfar. Allah SWT mengabadikan nasihat Nabi Nuh ‘alaihis salam
kepada kaumnya:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا
رَبَّكُمْ اِنَّه كَانَ غَفَّارًاۙ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ
وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ
لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ
Artinya : “Maka aku berkata kepada mereka:
Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan
menurunkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu,
serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10–12).
Ayat ini mengajarkan bahwa istighfar bukan
hanya ucapan di bibir. Istighfar harus diikuti usaha meninggalkan dosa. Mari
kita perbanyak membaca, “Astaghfirullahal ‘azhim”. Kita perbaiki shalat, kita
tinggalkan maksiat, kita jaga lisan, kita selesaikan perselisihan, dan kita
kembalikan hak orang lain.
Ketiga, jangan hanya berdoa, tetapi juga
berikhtiar. Islam mengajarkan kita
untuk menjaga air, memperbaiki sumber air, menghemat penggunaan air, merawat
pohon dan tanah, serta saling membantu, jangan sampai ketika air sedikit, kita
justru berebut dan bertengkar, Orang yang kuat bukan hanya yang mampu memenuhi
kebutuhannya sendiri, tetapi yang mau membantu tetangganya ketika tetangganya
kesusahan.
Rasulullah SAW juga mengajarkan doa
meminta hujan, dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa ketika terjadi
kekeringan, Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu meminta Al-Abbas untuk
berdoa kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.
Jamaah yang dimuliakan Allah
Ada kisah yang sangat menyentuh dalam
Shahih Al-Bukhari, pada suatu Jumat, ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah,
seorang Arab Badui berdiri dan mengadukan bahwa harta telah rusak dan keluarga
kelaparan. Ia meminta Rasulullah SAW berdoa agar Allah SWT menurunkan hujan.
Rasulullah SAW pun berdoa, tidak lama kemudian awan datang dan hujan turun.
Kisah ini menunjukkan bahwa ketika manusia
tidak berdaya, pintu Allah SWT tetap terbuka, kita boleh berusaha mencari air,
membuat penampungan, mengatur kebutuhan, dan menjaga tanaman. Tetapi hati tetap
bergantung kepada Allah SWT, Sebab hujan bukan milik manusia, hujan adalah
rahmat Allah SWT.
Maka ketika kemarau panjang, mari kita
bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita dekat dengan Allah? Sudahkah kita
memperbanyak istighfar? Sudahkah kita menjaga shalat? Sudahkah kita peduli
kepada tetangga yang kekurangan air? Sudahkah kita menjaga alam yang Allah SWT
titipkan kepada kita?
Jamaah Jumat rahimakumullah
Jangan sampai kemarau membuat hati kita
kering, tanah boleh kering, tetapi iman jangan kering. Sumur boleh menyusut,
tetapi doa jangan menyusut, tanaman boleh layu, tetapi harapan kepada Allah SWT
jangan layu.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Mari kita jadikan kemarau ini sebagai
pengingat, jangan hanya menunggu hujan turun dari langit, tetapi turunkan pula
air mata taubat dari mata kita, jangan hanya mencari air untuk tubuh, tetapi
carilah kesejukan untuk hati dengan dzikir dan membaca Al-Qur’an.
Mari kita saling membantu,jika ada
tetangga yang kesulitan air, bantulah sesuai kemampuan, jika ada orang tua,
janda, anak-anak, atau keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari,
jangan kita biarkan sendirian, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang muslim
harus peduli kepada saudaranya.
Dan marilah kita banyak berdoa, di antara
doa yang dapat kita baca adalah:
اللَّهُمَّ
اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا، مَرِيْئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ،
عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan
yang menolong, yang baik, yang menyuburkan, yang bermanfaat dan tidak
membahayakan, segera dan tidak ditunda.”
Rasulullah SAW juga pernah berdoa saat
khutbah Jumat ketika terjadi kekeringan. Ini menunjukkan bahwa berdoa meminta
hujan merupakan bagian dari tuntunan Nabi SAW.
Semoga Allah SWT mengubah kekeringan
menjadi hujan yang membawa manfaat, menguatkan hati kita dalam menghadapi
ujian, dan menjadikan kita hamba yang lebih dekat kepada-Nya.
بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا
كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ وَعَلَى
اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَلآَهُ أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ
اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ وَقَالَ تَعَالَى
يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا
عَذَابَ النَّارِ
Untuk membaca atau mencetak file khutbah jumat singkat berbahasa Indonesia ini dalam bentuk PDF silahkan download melalui tautan berikut ini :
.png)

إرسال تعليق